"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Monday, November 17, 2014

Not So Tough Lady - Part 22


“Apa yang terjadi?” tanya Magdalena pada Kepala Pelayan Rumah Tangga kediaman ayahnya.

Dia telah tiba pukul lima dini hari dan langsung menuju rumah sakit dimana Mr. Stuart terbaring lemah hanya dengan selang infus dan selang pembantu pernafasan menancap di tubuhnya. Lelaki tua itu semakin lemah, nafasnya hampir tak terdengar, detak jantungnya begitu pelan.

“Maaf, Nona. Mr. Stuart hendak mengambil gelas minumannya ketika beliau terpeleset dan jatuh ke lantai. Sejak saat itu beliau belum sadarkan diri.”


Wajah Magdalena pias, untuk pertama kalinya dia merasa ketakutan bila Sang Ayah meninggalkannya. Dia tidak rela ayahnya pergi setelah Magdalena hampir bisa memaafkan Sang Ayah, saat dia hampir sanggup mengabulkan permintaan ayahnya, walau itu akan menjadi permintaan Mr. Stuart yang terakhir.

Dia duduk di pinggir ranjang ayahnya, mesin yang memperlihatkan detak jantung Mr. Stuart berbunyi teratur meski begitu lemah. Setidaknya Magdalena tahu ayahnya masih ada di sana.

“Dad...”

Untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun akhirnya Magdalena memanggil ayahnya dengan sebutan itu, sebutan yang lama telah dilupakannya yang membuat hati Sang Ayah begitu miris memikirkannya.

Magdalena menggenggam lengan ayahnya yang keriput, lengan yang dulu kokoh menggendong tubuhnya yang mungil, kini hanya tulang terbungkus kulit dan sedikit otot tuanya. Magdalena tak pernah memperhatikan bagaimana Sang Ayah menua dimakan usia, dia tidak perduli dengan sakit ayahnya, dia hanya tahu bagaimana membenci dan menolak semua permintaan maaf ayahnya. Saat dia merasa semua hampir musnah, perasaan bersalah yang hinggap dalam dadanya kembali membebani pundak Magdalena, dia menangis meraung-raung menyadari semua kesalahannya, air matanya membanjiri pelupuk mata dan menetes tanpa henti pada pipinya. Untuk pertama kalinya pula Magdalena berdoa agar Tuhan tidak merenggut nyawa ayahnya.

“Dad... Maafkan aku, aku belum pernah membuatmu tersenyum, aku belum pernah menuruti perintahmu. Aku selalu melawan keinginanmu, bahkan hingga permintaan terakhirmu pun begitu sulit untuk kukabulkan. Dad... bangunlah, lihatlah aku, lihatlah anakmu, dia telah tumbuh menjadi wanita dewasa yang cukup tangguh, dia tidak akan mempermalukan nama keluarga lagi. Dad, aku mohon... bangunlah, lihatlah aku....”

Rengekan Magdalena tak digubris oleh ayahnya, Tuan Besar masih tetap diam dengan nafasnya yang teratur. Sudah tiga hari lamanya pemilik saham terbesar Stuart ltd. itu terbaring tak berdaya, dia juga tidak mampu mendengar suara anaknya yang masih duduk di sampingnya meratapi semua kesalahan yang telah dia perbuat dahulu.

“Dad....”

~*~*~*~

“Dimana dia?”

“Nona ada di dalam kamarnya, Tuan.”

Laki-laki itu berdecak gemas, dia baru saja pulang dari perjalanan bisnisnya ketika pelayan rumah tangganya melaporkan Magdalena baru saja melarikan diri dari rumah. Untungnya setelah para polisi diturunkan untuk ikut mencari, gadis kecil itu bisa kembali ke rumah meski dengan kemarahan yang sangat.

Mr. Stuart yang hampir putus asa menghadapi kebengalan anak gadisnya merasa sudah tidak sanggup lagi menghadapi kenakalan anaknya. Dia akhirnya memutuskan untuk menyekolahkan Magdalena ke asrama khusus perempuan dan akan dididik oleh para Biarawati dengan tingkat kedisiplinan yang tinggi. Mr. Stuart berharap dengan bersekolah di sana, Magdalena akan mampu memperbaiki tingkahnya yang selalu membuat keonaran dimana-dimana.

“Lena? Kau di dalam?” Mr. Stuart mengetuk pintu kamar anaknya, dengan perlahan dia membuka pintu lebar itu dan menyibak daunnya hingga terbuka.

Di atas ranjang, Magdalena tengah duduk dengan badan tertekuk, membungkuk karena kemarahan yang telah disembunyikannya untuk segera diluapkan di depan Sang Ayah.

Mr. Stuart menghampiri anaknya, berusaha menyentuh pundak Magdalena tatkala dia duduk di samping anaknya. Magdalena menepis tangan Mr. Stuart dari pundaknya, menggeser duduknya dan mendengus tak senang.

Mr. Stuart dapat mengingat saat pertama kali Magdalena mulai membencinya. Saat itu adalah hari Thanksgiving, dimana para pelayan telah menyiapkan makanan untuk disantap bersama. Magdalena telah sibuk seharian bersama dengan pengasuhnya untuk membuat cake kesukaan ayahnya. Dia sangat menyayangi ayahnya walaupun Tuan Besar jarang berada di rumah karena kesibukannya. Namun pada hari-hari tertentu, Mr. Stuart selalu berusaha menyempatkan diri untuk meluangkan waktu bersama dengan Magdalena.

Tapi hari itu, Herbert, Sang Paman, ikut datang bersama anak dan istrinya, meracuni pikiran Magdalena yang polos dengan hasutan-hasutan kejahatan yang membuat hubungan ayah-anak itu menjadi kebencian. Sejak saat itu pula Magdalena tak pernah memanggil ayah pada Mr. Stuart. Dia sangat membenci ayahnya, karena laki-laki itulah yang menyebabkan ibunya mati.

Jauh di dalam hati Mr. Stuart, dia ingin memberitahukan hal itu pada Magdalena suatu saat nanti, saat gadis kecilnya telah siap menerima semua informasi itu, saat Magdalena telah mampu memilah yang benar dengan yang salah.

Herbert mendahuluinya, Herbert menghancurkan hubungan Mr. Stuart dengan Magdalena, Herbert lah penyebab semua kerusakan ini dan sejak saat itu pula Mr. Stuart tak pernah menganggap Herbert sebagai adiknya lagi.

“Aku membencimu, enyahlah dari hadapanku,” ketus Magdalena, gadis remaja berusia dua belas tahun pada ayahnya.

Mr. Stuart terlalu lelah untuk menghadapi rengekan anaknya, dengan tak sabar dia menarik lengan Magdalena dan membawanya keluar dari kamarnya, keluar dari zona aman gadis kecil itu dan memaksanya menyeret langkahnya menuju lantai bawah, agar mereka bisa berkendara menuju asrama yang telah disiapkan Mr. Stuart untuknya.

“Kau akan tinggal dan belajar di asrama itu, bila kelakuanmu membaik, maka ayah akan memberimu izin untuk kembali ke rumah ini. Bila tidak, kau akan tetap tinggal di sana seumur hidupmu. Kau mengerti?” Mr. Stuart terpaksa bertindak keras pada Magdalena, dia tidak mengerti apa yang telah dikatakan Herbert pada anak gadisnya yang baik sehingga gadis kecil itu menjadi berubah seratus delapan puluh derajat padanya.

“Hentikan!!” Magdalena menahan langkahnya ketika mereka berada dekat dengan bibir tangga, dia berpegangan pada lengan kursi dan berusaha melawan tarikan ayahnya.

“No!! Kau harus ikut aku, Lena. Ayah sudah menyerah padamu, kelakuanmu seperti bajingan kecil, kau harus diajari tata krama. Bukan seperti ini seharusnya keturunan Stuart berlaku!!”

Magdalena menahan tangisnya, dia berusaha sekuat tenaga melawan ayahnya namun gagal. Tangannya yang basah karena berkeringat akhirnya terlepas dari kursi, diapun terpeleset di lantai sebelum tubuhnya mencium undak tangga di bawahnya.

Mata Mr. Stuart membelalak, wajahnya pucat pasi demi melihat anak gadisnya tergelincir dan terjatuh menuju bundaran tangga dengan telak.

“NOOO!!!!” teriakannya begitu keras, hampir seluruh pelayan penghuni rumah itu terpana melihat kejadian itu.

Mereka adalah saksi mata bagaimana Mr. Stuart menarik tubuh Magdalena dari kematian dan membawa dirinya berada dalam posisi mematikan. Mr. Stuart mendorong tubuh Magdalena hingga gadis kecil itu terjatuh ke samping dan sebagai gantinya, tubuh Mr. Stuart menggelinding turun membentur undak-undak tangga yang terdiri dari lima puluh anak tangga. Laki-laki itupun tak sadarkan diri dengan kepala bersimbah darah dan posisi kaki yang salah.

Sejak saat itu, Mr. Stuart tak mampu menggunakan kakinya lagi, sejak saat itu pula Mr. Stuart terpaksa duduk di atas kursi rodanya.

~*~*~*~

“Dad!!”

Nafas Magdalena terengah-engah, mimpi itu lagi, mimpi yang selalu menghantuinya namun kini terlihat dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi hampir dua puluh tahun yang lalu sebelum Magdalena pingsan karena kepalanya membentur tiang lemari, akibat dorongan ayahnya yang menyelamatkannya dari maut.

Tangis Magdalena menjadi-jadi, ayahnya masih tertidur dengan lelap tak hendak membuka matanya. Magdalena menyesal, dia akhirnya mengerti mengapa ayahnya melakukan apa yang dia lakukan dulu.

“Kau menyelamatkanku, Dad. Kau membuang hidupmu untukku, kau berkorban untukku....”

Tangisnya terdengar dari luar ruangan, tangis penyesalan dan perasaan bersalah yang begitu ingin meminta maaf pada ayahnya. Dia tertegun saat sebuah tangan meremas pundaknya, memberi kekuatan yang begitu dia butuhkan saat ini.

“Bren?” bisik Magdalena tak berdaya.

Laki-laki itu menggeleng, “No... It’s me, Mark....”

Tubuh Magdalena menegang, namun kedua tangan Mark membelenggu pundaknya, menahan Magdalena agar tidak bangkit dari duduknya.

“Shh... tenanglah. Sekarang, kau harus fokus pada ayahmu. Dia membutuhkanmu.”

Magdalena mengangguk, dia tidak mampu membenci lagi saat hatinya khawatir dengan kesehatan Sang Ayah. Magdalena tak berdaya tanpa seorang pun yang bisa diajaknya berbagi dan Mark datang pada saat dia begitu membutuhkan bahu untuk menopang tubuhnya.

Tanpa perlawanan berarti, Magdalena membiarkan Mark membawa tubuhnya ke dalam pelukannya, dia lelah, dia tidak ingin berdebat. Magdalena hanya berharap Bren akan segera datang dan menemaninya di sini.

Tanpa disadari oleh dua insan di dalam kamar iccu itu, Bren tengah menatap dengan hening sepasang mantan kekasih yang sedang duduk bersisian saling menguatkan. Walau hatinya cemburu, tapi Bren yakin, Magdalena membutuhkan Mark di sisinya. Diapun hanya mampu duduk di luar ruangan seorang diri sembari menunggu waktu yang tepat untuk menemui kekasih hatinya.

Satu hal yang tidak pernah Bren ketahui, waktu tepat itu tak akan pernah dia dapatkan. 



4 comments:

  1. ini sampai sini aj? gk ad lajutannya? kalo ada di pos dong. hehe mksh :)

    ReplyDelete
  2. Lanjut plis... kasiani yg udah stay tuned dr awal.

    ReplyDelete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  4. Dear author...
    Apakah sudah ada sambungannya?
    I'm really really really waiting please tell where i can find it.thank's alot ..dan tetap berkarya dengan semangat ya..

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.