"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Thursday, November 20, 2014

Surrender In Your Arms - Chapter 10


Telephone di kantor CEO Webb’s Finance berdering hampir tanpa henti sedari pagi hingga sore hari. Elliot sibuk di dalam kantornya, bahkan hampir terlupa dengan makan siangnya. Dia telah memerintahkan Hannah untuk menjadwalkan ulang semua pertemuan bisnisnya per hari ini. Pertemuan dengan klie di atas pukul enam sore telah dia batalkan, digantikan keesokan hari, atau hari lainnya. Dia harus menjemput Missy pukul tujuh malam untuk makan malam di rumahnya.

Missy adalah seorang pemilik butik gaun pengantin di pusat kota. Dalam usianya yang ke dua puluh lima tahun, Missy cukup berhasil dalam bisnisnya. Kliennya terdiri dari artis-artis dan para pejabat yang tidak sedikit. Dengan pengaruh mereka, Missy melebarkan sayapnya pada kelas atas. Dia sedang berusaha untuk itu, hingga iklan dari Elliot mencuri perhatiannya.


“Sir, sudah pukul enam sore. Anda tidak bergegas?” tanya Hannah dari intercom.

Elliot melirik jam tangannya, dia tidak memiliki banyak waktu untuk pekerjaannya. Dengan kesal dia menutup laptopnya, menggamit jas kerjanya dan bergegas keluar dari kantornya. Di depan meja Hannah, Elliot mendiktekan pekerjaan yang harus diselesaikan Hannah.

“Kabari aku nanti malam, Hannah. Jangan segan untuk menelphoneku. Ini adalah transaksi penting. Jangan sampai salah.” Elliot mengenakan jasnya, dia terlihat terburu-buru. Tinggal setengah jam lagi untuk menjemput calon istrinya. Dia tidak boleh terlambat.

Dengan kecepatan tinggi, Elliot memacu mobilnya ke alamat Missy. Sebuah gedung apartemen mewah dengan tarif selangit. Elliot tidak pernah menyangka Missy akan tinggal di tempat seperti ini. Kendati pun dia adalah satu-satunya calon yang paling mendekati kriteria Elliot, dia tidak menyangkanya sama sekali.

“Apartemen nomer tujuh puluh,” terang Elliot pada petugas di lobi. Petugas itu kemudian menghubungi Missy, tak lama, wanita itu turun dan menyapa Elliot di ruang lobi.

Keduanya berpelukan, mencium pipi masing-masing, seolah mereka telah saling mengenal untuk waktu yang cukup lama. Missy tidak pernah terlihat gugup di depan Elliot, kebalikannya, pria itulah yang mendadak guguk di samping Missy. Dia kembali teringat dengan seorang wanita lain yang mungkin akan menyadari arti kedatangan Missy di dalam rumahnya.

“Kita berangkat?” tanya Missy, mereka telah berada di dalam mobil yang belum dinyalakan sama sekali.

Elliot tersadar dari lamunannya, “Ya, kita berangkat.”

Mobil itu pun melaju meninggalkan apartemen menuju kediaman Elliot.

“Kau terlihat cantik,” ujar Elliot. Mobil masih melaju di jalanan ramai.

Missy tersenyum, dia senang dengan pujian Elliot. “Hanya cantik?”

Sudut bibir Elliot terangkat, “Kau terlihat cantik, anggun dan menawan. Kau tahu bagaimana berdandan.”

Missy tergelak, “Bukankah sudah kutuliskan dalam CV-ku mengenai pekerjaanku? Aku seorang perancang pakaian pengantin. Aku harus tahu apa yang akan kukenakan, kan, Tuan Webb...,” bisiknya di telinga Elliot. Udara hangat ditiupkan Missy pada telinga Elliot, laki-laki itu menelan ludahnya.

“Ya, aku lupa.”

“Rileks, aku tidak akan memakanmu. Tidak sekarang,” tawa Missy renyah. Dia sangat senang melihat reaksi Elliot hanya dengan godaan kecilnya. Apa yang dia perlihatkan pada Elliot saat pertemuan pertama mereka bukanlah dia sepenuhnya. Pria itu tidak tahu apa pun mengenai dirinya. Belum....

Elliot tertawa kaku. Lelucon Missy telak mengenai pikirannya, bagaimana dia berharap wanita di sampingnya itu akan “memakannya”.

“Bila kau lapar, Mrs. Rose sudah menyiapkan makan malam yang nikmat untuk kita. Kau bisa menunggu, kan?” senyum Elliot kecut.

Di bawah lampu jalanan yang remang-remang, Missy yang mengenakan gaun hitam dengan sebatas dada, belahan gaun yang memperlihatkan betisnya yang langsing, yang kini sedang saling tindih, disilangkan, diperlihatkan dengan gamblang untuk mata Elliot. Laki-laki itu berkali-kali memperbaiki letak celananya, berharap mata Missy tidak memperhatikan kegelisahannya.

“Siapa nama anak-anakmu, Mr. Webb?” tanya Missy mengalihkan pembicaraan mereka.

“Kau bisa memanggilku Elliot. Anak-anakku, Landon, tujuh tahun, dan Derby, lima tahun. Aku harap kalian akan saling menyukai,” kata Elliot.

“Ya, aku juga berharap seperti itu,” jawabnya. “Apakah selain diriku, kau menemui pelamar-pelamar lainnya, Elliot?”

“Hm... well. Bisa kukatakan begitu.”

“Banyak?”

Elliot tertawa pendek, “Ribuan. Dan kau salah satu di antara mereka.”

Mulut Missy menganga, bibirnya membulat membentuk kata “Wow”

“Sebanyak itu? Wow... kau adalah seorang bujangan paling ditunggu-tunggu rupanya. Apakah aku harus mengeluarkan skill terbaikku untuk merebut hatimu?”

“Entahlah. Menurutmu?” tanya Elliot. Dia tidak yakin akan ada seorang wanita manapun yang sanggup untuk mencuri hatinya lagi, karena hati itu telah dibawah mati oleh almarhum istrinya.

Missy membasahi bibirnya dengan lidahnya, “Aku rasa... aku akan mengerahkan segenap kemampuanku untuk membuatmu menoleh padaku,” ujarnya sambil tertawa.

“Aku ucapkan selamat mencoba untukmu,” kekeh Elliot. Mobil miliknya kini telah mencapai pintu gerbang kediamannya. Mereka pun turun dengan Elliot membukakan pintu mobil bagi Missy.

“Rumah yang sangat indah. Berkelas... dan menawan. Aku pernah mencoba membeli rumah di sekitar tempat ini, tapi tidak ada satu orang pun yang bersedia menjual rumah mereka. Nampaknya lingkungan di sini sangat nyaman,” kata Missy. Dia menebarkan pandangannya ke seluruh taman dan bangunan di dalam kediaman Elliot.

“Tunggu sampai kau melihat ke dalam rumah, kau akan lebih terkagum-kagum,” ujar Elliot.

“Oh, ya? Tentu saja.”

Missy menggamit lengan Elliot saat mereka masuk ke dalam rumah, dimana Mrs. Rose dan pelayan-pelayan lain telah menunggu dengan hormat. Kedua anak Elliot juga telah menunggu di atas sofa di depan tivi kedatangan ayah mereka. Mereka telah disiapkan sedemikian rupa dengan penampilan terbaik mereka untuk malam ini.

“Daddy....,” panggil Landon dan Derby bersamaan. Mereka berlari menjangkau ayah mereka untuk berpelukan.

“Hei, anak-anakku. Apa kabar kalian? Daddy merindukanmu.” Elliot mengecup kening kedua anaknya, mereka berpelukan cukup lama., meninggalkan Missy untuk melihat-lihat ke dalam ruangan rumah itu dengan matanya. Dia disapa oleh Mrs. Rose namun wanita itu hanya tersenyum penuh misteri.

“Siapa dia, Dad?” tanya Landon pada ayahnya, tangannya menunjuk pada wanita berambut hitam kecoklatan yang digelung rapi di atas kepalanya. Missy mengenakan lensa kontak berwarna biru, menyembunyikan warna retina aslinya.

“Missy, ehm... ini Miss Mariah Rainbow, kalian bisa memanggilnya Missy. Dia adalah... ehm...,” Elliot cukup kesulitan mencari istilah untuk Missy pada anak-anaknya.

“Kandidat calon istrimu?” tanya Landon dengan nada datar. Dia menilai penampilan wanita ayahnya.

Elliot berdehem membersihkan tenggorokannya, para pelayan berbisik-bisik di antara mereka membicarakan mengenai Missy dan tujuannya kemari.

“Miss Rainbow adalah seorang teman dan dia spesial. Kita akan makan malam bersama Miss Rainbow, jadi... Daddy ingin kalian bersikap baik. Bisakah Daddy mendapatkan kata ‘yes’ dari kalian?” tanya Elliot pada anak-anaknya.

Dengan pelan Landon menjawab, “Yes.” Sedang Derby terdiam, dia terlihat kebingungan dan melihati nannynya sedari tadi.

“Kenapa kita tidak makan malam dengan Switty, Dad?” tanya Derby polos, dia menarik lengan jas ayahnya, menunjuk pada Kimberly yang membisu, tidak tahu harus berbuat apa.

“Ehm... Miss Whittaker akan makan bersama yang lainnya. Malam ini kita makan malam dengan Miss Rainbow, okay?” bujuk Elliot pada anaknya.

Wajah Derby cemberut, dia merengut tak senang. Pertama kali ayahnya mengajak mereka makan bersama dengan seorang wanita asing, dan dia tidak menyukainya.

“No! Aku ingin makan dengan Switty!! Aku tidak mau dengan Miss Rainbow!!” pekik Derby marah.

Elliot berkacak pinggang, Kimberly yang melihat situasi tidak terkendali, menghampiri Derby dan membujuk bocah itu untuk menuruti ayahnya.

“Tidak. Aku tidak mau. Aku ingin Switty.”

Derby masih tidak mau mendengar ayahnya. Sementara Elliot menghadapi Derby, dia meminta Mrs. Rose mengantarkan Missy ke meja makan mereka. Di tempat semula, Elliot dan Kimberly masih mencoba membujuk Derby agar bersedia menuruti ayahnya.

“No!!! Aku tidak mau!!!” dia berteriak, marah. Tangisnya meraung-raung. Isakannya memilukan hati. Bocah berusia lima tahun itu mendekap Kimberly dan tidak mau melepaskannya. Bermacam cara dicoba Elliot namun tidak berhasil. Dia pun menyerah.

Tangannya berkacak pinggang, gemas. Jasnya telah dia lepaskan, kedua lengan kemeja putihnya telah tergulung di batas lengan. Elliot jengkel setengah mati pada anaknya, terlebih kejadian memalukan itu terjadi di depan Missy, dan Kimberly.

“Kau tenangkan dia. Aku harus menjamu tamuku.” Elliot meninggalkan Kimberly dengan Derby yang masih menangis. Dia menemui Missy yang berbincang-bincang dengan Mrs. Rose dan Landon, walaupun bocah tujuh tahun itu lebih banyak bermain dengan gamenya.

“Maafkan membuatmu menunggu. Aku juga minta maaf atas kelakuan Derby. Dia biasanya anak baik.” Elliot terlihat frustasi dan sedikit kecewa. Dia berharap kehadiran seorang wanita yang kelak akan menjadi ibu dari anak-anaknya mampu membuat Derby senang. Dia ingin Derby menerima Missy, sebagai ibu barunya dan istri ayahnya.

Mrs. Rose dan pelayan lain keluar dari ruang makan, mereka bersiap-siap menghidangkan jamuan makan malam.

“Aku lihat Derby dekat dengan babysittermu. Apakah itu tidak terlalu berlebihan menurutmu, Elliot?”

Elliot melirik tajam ke arah Missy, “Apa maksudmu?” tanyanya.

“Bukan maksudku untuk mencampuri urusan keluargamu. Aku tidak memiliki hak untuk itu. Belum... tapi menurutku, tidak baik seorang anak lebih dekat dengan babysitternya daripada orang tuanya. Dalam hal ini, dirimu. Mungkin juga calon istrimu kelak. Aku banyak mendengar berita-berita buruk mengenai babysitter,  berita yang sangat tidak mengenakkan.”

Elliot terdiam, kelakuan Derby yang tidak biasanya menolak permintaannya membuat Elliot berpikir. Sejak kedatangan Kimberly dia memang sudah jarang menghabiskan banyak waktu dengan anak-anaknya. Dia disibukkan dengan pekerjaan dan pertemuan-perteman dengan pelamar-pelamarnya. Sedikit kekhawatiran terlintas dalam kepala Elliot bila apa yang dikatakan Missy benar. Terlebih, dia sama sekali tidak tahu latar belakang Kimberly sepenuhnya.

“Switty adalah orang baik. Kau sebaiknya menjaga ucapanmu, Miss Rainbow,” ujar Landon tanpa berusaha mengalihkan pandangannya dari gadgetnya. Dia berada di sana hanya untuk mengawasi ayahnya dengan calon istri barunya.

Missy berdehem, dia mengangkat dagunya, sedikit mendengus yang tidak diperhatikan Elliot karena Mrs. Rose telah tiba membawakan makanan mereka. Setelah itu, tidak ada yang membicarakan Derby atau babysitter lagi. Elliot dan Missy lebih banyak membahas diri mereka masing-masing, sedang Landon mendengarkan dengan bosan. Dia melirik jam dinding yang telah berdentang sembilan kali, waktu baginya untuk tidur.

“Aku harus tidur, Dad. Besok ada pelajaran matematika, aku tidak boleh terlambat atau Miss Flower akan menghukumku membersihkan papan tulis sepanjang hari,” keluh Landon. Dia terpaksa meninggalkan ayahnya dengan wanita yang kurang disukainya. Entah mengapa Landon tidak menyukai Missy, hati kecilnya lebih memilih Kimberly sebagai orang yang mengasuhnya ataupun sebagai pendamping ayahnya.

Elliot mencium kedua pipi anaknya sebelum membiarkan Landon berlalu dari sana. Kini dia hanya berduaan dengan Missy di dalam ruang makan itu.

“Ehm... bagaimana makan malammu?” tanya Elliot, berbasa-basi. Dia memotong-motong puding karamel di piringnya, bingung memutuskan antara mengantarkan Missy pulang ke rumahnya atau meminta wanita itu menginap.

“Aku suka. Makan malam ini nikmat. Terima kasih, Elliot. Aku rasa ini adalah makan malam paling baik yang pernah aku rasakan, sampai hari ini. Mungkin bila kau memiliki sebotol redwine yang enak, malam ini akan sempurna,” tawar Missy yang langsung ditanggapi Elliot.

“Ya, Tuhan. Tuan rumah apa aku ini. Sebentar. Aku akan mengambil koleksi redwine terbaikku. Kau bisa menunggu di ruang kerjaku, Missy. Mrs. Rose akan mengantarmu. Aku akan ke ruang bawah tanah untuk mengambil koleksiku itu. Tak lama.”

Dengan sedikit tergesa, Elliot menuju ruang bawah tanah rumahnya dimana dia menyimpan berbotol-botol anggur dari segala merek terkenal yang telah disimpan di dalam rumah itu beratus-ratus tahun lamanya, sejak pemilik pertama rumah itu.

Saat kembali menuju ruang kerjanya untuk menemui Missy, Elliot melintasi kamar Derby. Pintu kamar itu tidak tertutup sepenuhnya, dengan penuh rasa ingin tahu, Elliot menyibak daun pintu kamar Derby.

Derby tengah berbaring di atas tempat tidurnya, gadis kecilnya sedang tertawa mendengarkan Kimberly membacakan dongeng untuknya. Bagaimana Cinderella bersembunyi dari pangerannya, bagaimana Sang Pangeran tidak bertemu dengan Cinderella dan pengorbanan-pengorbanan kedua insan itu untuk mempersatukan cinta mereka. Elliot bersandar pada pinggiran pintu, mendengarkan suara Kimberly yang sedang mendongeng untuk Derby. Dia tersenyum, terkadang tertawa tanpa suara saat mendengar lelucon yang dilemparkan oleh babysitter anaknya. Saat Derby menyela Kimberly, pertanyaan yang keluar dari mulut anaknya itu membuat Elliot terpaku.

“Switty, maukah kau menjadi ibuku?”

Kimberly meletakkan buku dongengnya, menggenggam tangan Derby lembut, “Apa yang kau katakan, Sayang. Aku tidak bisa menjadi ibumu. Ibumu adalah seorang wanita yang sangat cantik dan baik. Tapi aku bisa menyayangimu sepenuh hatiku. Aku akan menganggapmu sebagai anakku, aku mencintaimu seperti anakku sendiri.”

“Tapi aku ingin kau menjadi ibuku. Aku tidak ingin nenek sihir itu menjadi ibuku. Dia pasti akan merebut Daddy. Aku tahu, karena mereka semua seperti itu,” rajuk Derby, masih berusaha meminta Kimberly untuk menjadi ibunya.

Kimberly memeluk Derby, membawa gadis kecil itu dalam pangkuannya. “Jangan berkata seperti itu. Kalian belum saling kenal, kan? Siapa tahu... dia akan menyayangi kalian melebihi aku.” Dirangkumnya wajah mungil Derby, menyentuhkan jarinya pada hidung anak kecil itu, “Berikan dia kesempatan. Bila kau tidak menyukainya, kau bisa mengatakan pada Daddy-mu, kan? Setiap orang pantas mendapatkan kesempatan, Sayang... karena kita tidak boleh menilai seseorang dari penampilannya saja,” jelas Kimberly, dia teringat bagaimana Elliot memberikannya kesempatan yang mungkin tidak akan dia dapatkan dari orang lain.

“Menurutmu begitu? Tapi bagaimana bila dia jahat padaku dan Landon? Kalau Daddy tidak ada di dekatku, dia akan berubah menjadi nenek sihir? Seperti ibu tiri Cinderella?”

“Ehm... tidak. Tentu saja tidak. Dia tidak akan berubah menjadi nenek sihir. Lagipula, aku akan selalu di sampingmu. Bukankah aku sudah berjanji akan selalu mendampingimu sampai kau lulus SD? Sampai Derby yang cantik memiliki banyak teman. Kau suka kan banyak teman, Derby?”

Derby mengangguk kuat-kuat, “Ya, aku suka banyak teman. Aku ingin punya banyak teman. Switty telah berjanji untuk bersamaku, kan. Kau tidak boleh mengingkari janjimu, Switty. Aku akan sedih bila kau pergi seperti nanny-nanny-ku yang sebelumnya?” tanya Derby penuh harap. Bola matanya membulat tanpa kedip.

“Ya, aku berjanji.” Senyum di bibir Kimberly membawa senyuman pada bibir Derby, tepat di saat Elliot menutup pintu di belakangnya dan bersandar pada dinding kamar anaknya. Dia mendesah pelan, menarik nafas panjang, pikirannya berkecamuk.

Derby tidak pernah mengungkapkan keberatannya akan apa pun, namun kali ini dia keberatan ayahnya memilih ibu baru untuk mereka. Sejak awal Elliot berharap calon istrinya akan diterima oleh anaknya, karena itulah tujuan utamanya membuka iklan dulu. bila kini Derby, bahkan Landon tidak menyukai pilihannya, haruskah dia meneruskan permainan ini?

“Elliot? Aku menunggumu,” ujar Missy yang tiba-tiba muncul dari lorong.

“Maaf. Aku lupa waktu saat berada di tempat penyimpanan anggurku. Mengagumi anggur-anggur terbaik,” senyum Elliot meminta maaf.

Missy tidak mempermasalahkannya lagi, dia telah menggamit lengan Elliot dan membawa laki-laki itu kembali ke dalam ruang kerjanya. Satu jam lamanya mereka berbincang-bincang, Missy banyak bercerita tentang dirinya dan bisnisnya, tentang bagaimana dia berkeinginan untuk melebarkan sayap usahanya hingga ke New York dan negara-negara bagian lainnya di Amerika. Malam yang mulai larut pun ikut mempengaruhi keduanya selain alkohol dari botol yang telah habis. Di atas sofa ruang kerjanya, Elliot memangku tubuh Missy saat mereka berciuman dengan mesra. Missy berusaha membuka kemeja Elliot, tapi pria itu menolaknya.

“Aku rasa kita cukupkan untuk malam ini. Aku akan mengantarkanmu pulang,” sela Elliot. Dia masih memangku tubuh Missy di atas pahanya.

Missy terlihat kecewa, tapi senyumnya kembali secepat dia hilang. “It’s ok. Aku mengerti. Tapi aku berharap lain kali makan malam itu akan lebih dari sekedar ciuman,” ujarnya nakal. Dia mencium sekali lagi bibir Elliot yang tidak menolaknya.

Satu jam kemudian, Elliot telah kembali dari luar. Dia masuk ke kamarnya untuk membersihkan badan. Pukul dua belas malam, Elliot mencari anak-anaknya, mengucapkan selamat malam untuk mereka. Saat Elliot memasuki kamar Derby, dia melihat bagaimana gadis kecilnya tengah tertidur dalam dekapan babysitternya. Mereka berdua tidur dengan nyenyak, Elliot tidak tega membangunkannya.

Dia duduk di kursi kecil yang tersedia di samping ranjang Derby. Membelai pelan wajah anaknya, memikirkan kembali apa yang telah dia lakukan sebulan belakangan ini hanya untuk memenuhi egonya mencari seorang ibu yang baik bagi anak-anaknya, dan mungkin seorang istri yang sanggup membuatnya merasakan kembali bagaimana menjadi seorang suami. Tapi melihat penolakan anak-anaknya terhadap calon pilihannya, Elliot dilanda kebimbangan. Diliriknya wajah Kimberly, wajah yang begitu polos, tanpa make up, namun dia cantik dengan sendirinya. Tanpa polesan bedak yang berlebihan, tanpa pemerah bibir yang menggoda, dia telah membuat seorang Elliot was-was berada di sampingnya. Melihati dengan seksama wajah Kimberly sedekat ini, Elliot tidak dapat menahan tangannya dari menyentuh mulusnya kulit wajah Kimberly.

Tangannya bergetar saat menyusuri kulit mulus itu, merasakan kelembutan bibir merahnya yang sehat, bahkan saat menyentuhkan jari tangannya pada hidungnya yang mancung, bulu matanya yang lentik, alisnya yang rapi. Aroma melati yang tercium dari tubuhnya tak dapat membohongi hati Elliot, dia tertarik pada wanita ini. Tubuhnya, dirinya. Bukan hanya tubuhnya, Elliot bersikeras.

Tapi dia tidak tahu siapa wanita ini. Tak mungkin baginya mendekati seseorang yang tidak diketahui asal-usulnya. Bagaimana bila dia adalah seorang kriminal? Narapidana yang melarikan diri? Pembunuh berantai? Penculik anak-anak?

Kemungkinan terakhir membuatnya bergidik.

“Tak mungkin ada seorang kriminal serupawan ini,” bisiknya pelan.

Kimberly terbangun. Mata mereka secara tidak langsung saling bertatapan. Kimberly masih ling-lung, di antara dunia nyata dengan alam mimpi. Dia setengah sadar dengan apa yang dilihatnya.

“Mr. Webb, anda di sini,” ujar Kimberly.

Elliot mendekap mulut Kimberly, tak ingin suara wanita itu membangungkan Derby. Seketika Kimberly terbangun dari tidurnya, sepenuhnya.

“Shh... Jangan sampai Derby bangun.”

Kimberly mengangguk pertanda mengerti, barulah Elliot melepaskan tangannya.

“Maaf, aku terpaksa mendekapmu,” ujarnya meminta maaf.

Kimberly menggeleng, dia berusaha bangkit dari ranjang dengan perlahan. Sesekali mengawasi Derby yang untungnya tidak terusik dengan gerakannya.

“Kau sudah makan?” tanya Elliot pada Kimberly. Dia ingat bagaimana Kimberly menemani Derby yang sedang kesal hingga dini hari. Tak mungkin Kimberly telah mengambil makan malamnya.

“Sudah terlalu larut untuk makan malam. Aku akan kembali ke kamarku saja.”

Elliot tidak bergeming dari duduknya, tubuhnya menghalangi Kimberly untuk bergerak dari ranjang Derby.

“Aku ingin berbicara padamu. Murni berbicara. Tak akan ada yang lain, aku berjanji. Ikuti aku,” ajak Elliot. Dia mengajak Kimberly masuk ke dalam ruang kerjanya.

Mereka duduk di sofa ruang kerja Elliot. Kimberly duduk dengan gelisah, mengira-ngira apa yang diinginkan oleh majikannya.

“Aku tahu, aku telah menanyakan hal ini berkali-kali. tapi hatiku tidak tenang bila aku belum mendapatkan jawabannya, Miss Whittaker. Kau tahu, berita-berita mengenai penculikan bayi oleh babysitter-nya semakin marak belakangan ini. Aku hanya ingin berjaga-jaga, bila aku mengetahui siapa-siapa saja yang aku pekerjakan. Sehingga aku tidak perlu cemas. Apakah aku perlu cemas dengan identitasmu, Miss?” suara Elliot datar, dia mencoba mencari dalam bola mata Kimberly bila terdapat kegelisahan di dalam sana.

“Aku sudah mengatakannya sebelumnya, Mr. Webb. Aku berasal dari Dashville, sebuah desa kecil dan tidak terkenal di selatan. Tapi bila kau mencarinya, pasti akan kau temukan. Aku tidak memiliki siapa pun lagi. Jadi, aku tidak tahu bagaimana harus menyebutkan identitasku padamu.”

“Kapan kau lahir? Siapa nama aslimu? Nama orang tuamu, nama saudara terdekatmu? Golongan darahmu, status pernikahanmu. Aku ingin kau menulis semua informasi mengenai dirimu di atas kertas ini.” Elliot menyodorkan sebuah kertas putih dan sebuah pena untuk Kimberly.

“Haruskah? Aku kira aku sudah...,”

“Ya, harus!” sela Elliot. “Sekarang juga.” Elliot mengawasi Kimberly bagai elang, tajam dan hampir tanpa kedip.

Dengan enggan Kimberly menuliskan seluruh data dirinya di atas kertas itu. Dia ragu bila harus menuliskan semua kebenaran di sana, karena dengan mudah Elliot akan mengetahui tentang asal-usulnya, tentang bagaimana dia pergi dari rumahnya karena sebuah masalah.

Kimberly telah menuliskan semua data dirinya di atas kertas itu, dia menyerahkannya pada Elliot yang membacanya satu per satu.

“Nama, Kimberly Francis Whittaker. Lahir, 20 Juni 1988. Orang tua, James dan Anny Whittaker. Saudara, tidak ada.” Elliot melirik ke arah Kimberly yang masih menunduk. “Alamat... kosong. Kau tidak punya alamat di Dashville?” alisnya berkedut.

“Itu bukan rumahku, jadi itu bukan alamatku. Orang tuaku sudah meninggal, mereka tidak mewarisiku apa pun.”

Elliot membaca kembali tulisan tangan Kimberly, “Sekolah terakhir, high school... pernah bekerja sebagai babysitter untuk paman dan bibimu Ryan dan Kelly Whittaker, sebagai pramusaji di restoran di kota Carlington. Carlington, aku kira pernah mendengarnya, tapi itu bukan di selatan. Bukankah itu di dekat Dessert County di Maryland?” tanya Elliot lagi, dahinya berkerut bingung.

“Ya, anda benar.”

“Kau mengelana sejauh itu?”

Kimberly tidak menjawab pertanyaan Elliot, sebaliknya, dia hanya diam. Semakin menekuk dalam duduknya. “Aku tidak pernah berbuat kejahatan jika itu yang ingin kau tahu, Tuan.”

Elliot menghela nafasnya, “Bukan itu yang ingin aku ketahui, Nona Whittaker. Aku ingin tahu, mengapa begitu sulit untukmu mengungkapkan siapa dirimu pada majikanmu. Majikan yang jelas-jelas mempercayakanmu untuk menjaga anak-anaknya. Kau tahu apa arti mereka bagiku, kan? Mereka adalah nyawaku. Aku mempercayakan nyawaku padamu. Bukankah wajar bila kau juga mempercayakan nyawamu padaku?” kata Elliot.

Kimberly terdiam. “Maafkan aku. Tapi semua yang aku tuliskan itu adalah data-data asliku. Aku hanya kurang beruntung karena hidupku berpindah-pindah dari rumah ke rumah kerabatku. Aku adalah orang yang terbuang, Tuan. Anda bersedia menampungku, aku sungguh berterima kasih. Bila anda tidak ingin mempekerjakanku lagi, aku akan pergi dan tidak membantah,” Suara Kimberly berat, itu adalah pilihan yang tidak ingin dia pilih tapi harus dipilihnya.

Elliot meletakkan kertas itu di atas meja. Dia menyandarkan tubuhnya pada punggung sofa, mendesah berat.

“Usiamu dua puluh enam tahun. Kau sudah dewasa, Nona Whittaker. Kau tahu apa konsekuensi dari setiap perbuatanmu. Baik itu buruk maupun positif. Aku hanya berharap kau memberikan semua nilai-nilai positifmu untuk keluargaku. Terlebih, Derby sangat menyukaimu. Aku tidak ingin melukai hati anakku karena mengusirmu dari rumah ini. Lebih baik kau perhatikan apa-apa saja yang akan kau lakukan dan katakan pada Derby. Anak kecil cepat belajar, aku rasa kau lebih mengerti dari aku mengenai hal itu.” Elliot menutup ceramahnya.

“Tidurlah. Sudah terlalu lama aku menyita waktu istirahatmu. Selamat malam,” Elliot mengantarkan Kimberly ke depan pintunya, berharap wanita itu menoleh sekali lagi padanya, namun dia harus kecewa karena Kimberly tetap berjalan pelan memunggunginya.

“Aku terlalu keras padanya,” desahnya panjang. Elliot tidak habis pikir mengapa dia bersikap sekeras itu pada Kimberly. Bahkan untuk tahu identitas wanita itu begitu sulit, Kimberly menutup dirinya dari orang lain. Dia ramah, dia sopan. Tapi sangat sulit bagi Elliot untuk menguak isi hati wanita itu.


“Mungkin Mrs. Rose tahu. Perempuan suka bergosip, kan?” dia menggigiti bibirnya, keinginan untuk tahu mengenai diri Kimberly begitu besar. Tapi dia harus mengurungkan niatannya mengganggu tidur Mrs. Rose karena Missy menelphonenya dini hari buta. 


9 comments:

  1. udah chapter 10.. terakhir aku baca chapter berapa ya.. :3
    lama banget gak tayang ni cerita -__-

    ReplyDelete
  2. kata-kata derby menyentuh banget.. aku sampe termewek-mewek deh dibuatnya.. :'(
    mbak shin.. dilanjutin donk ceritanya.. makasih.. ^_^

    ReplyDelete
  3. Selalu nungguin ini..semoga authornya slalu semangat bt nulis

    ReplyDelete
  4. Thorrrrr semangat yah...di tunggu klanjutannya.secepatnya..😁

    ReplyDelete
  5. Mbak kapan diposting lanjutan ceritanyaa :(

    ReplyDelete
  6. iya nich saya juga nunggu-nunggu kapan kelanjutannya? kangen nich ama khayalan-khayalannya mr. elliot. he..he..he...

    ReplyDelete
  7. Elliot kan da mbah google, ada detektif swasta juga. Knp gk menggunakan salah satunya?? Gemes ma elliot. Missy jauh2 sana hus hus hus sana *ala syahrini xixixi

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.