"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Saturday, January 3, 2015

Cinta Tak Perlu Benar - Chapter 2


Di dalam kamar president suite hotel Nirwana, sebuah hotel berbintang lima di kawasan Jakarta Timur, Windy dan seorang pria muda baru saja menghabiskan sore yang panas selama tak kurang dari lima jam lamanya.

Meski usianya yang sudah empat puluh empat tahun dan memiliki seorang anak berusia dua puluh dua tahun, Windy tetap menjaga penampilan tubuhnya dengan aktivitas gym yang teratur. Sudah lima tahun lamanya sejak suaminya menikahi istri keduanya, Susi.


Mereka dulu bersahabat baik, meskipun Windy mengakui dia sengaja merebut Deddi walau tahu Susi juga memiliki perasaan yang sama terhadap laki-laki itu. Tapi Windy beranggapan, siapa cepat, dialah yang akan memenangkan perebutan itu. Windy menang dan Susi kalah, wanita itu menghilang setelah mengetahui Windy hamil terlebih dulu.

Windy berdecak sinis, dia tidak peduli dengan perbuatan suaminya di luaran. Dari awal mereka menikah, Windy telah mengetahui perbuatan serong suaminya yang senang bermain wanita. Dari gadis-gadis remaja hingga sekretarisnya pernah ditiduri oleh Deddi dan Windy hanya memandang dengan sebelah mata. Selama suaminya itu tidak mencampuri hobinya, Windy tak akan mempermasalahkan kelakuan suaminya. Rumah tangga mereka berdiri pun hanya sebagai penguat status sosial di masyarakat walaupun ranjang mereka telah lama dingin.

Windy tidak memerlukan Deddi lagi untuk menghangatkan ranjangnya. Telah banyak laki-laki muda yang dipelihara Windy yang mampu memuaskan hasrat seksualnya, dia tidak perlu suaminya untuk urusan itu. Meski sebagian kecil hatinya terluka ketika mengetahui bagaimana Deddi berubah setelah menikahi Susi, suaminya itu tidak pernah lagi bermain wanita. Nampaknya Deddi telah bertobat dan cukup dengan seorang Susi.

“Huh!! Laki-laki di mana-mana sama saja. Kalau ada yang lebih bagus, yang lama pasti ditinggalkan!!” ketusnya kesal.

Billy, seorang mahasiswa sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta mengelus pundak Windy dengan mesra, “Kamu masih kesal dengan suamimu? Bukankah sudah lima tahun lamanya mereka menikah?” ujarnya sembari mengecup pundak wanita itu.

Windy tertawa renyah, dia sangat suka ketika Billy menciumi tubuhnya, memperlakukannya seperti seorang gadis remaja yang baru saja mengenal cinta. Billy pada usianya yang ke dua puluh empat tahun, telah mengenal begitu dalam dunia seperti ini.

Sebelum bertemu dengan Windy, Billy hanyalah seorang mahasiswa drop out yang bekerja sebagai instruktur gym di tempat Windy berlatih. Mereka bertemu dan bercakap-cakap hampir setiap hari. Dari sanalah kemudian Windy tertarik padanya dan menawarkan kesempatan yang tak akan pernah diimpikan oleh Billy sebelumnya.

Billy cukup tampan dan gagah, dengan otot kokoh dan tubuh yang terbentuk sempurna dengan latihan gymnasium setiap hari, dadanya yang bidang, Billy adalah dambaan para wanita yang berlatih di sana. Namun hanya seorang Windy yang berhasil membujuknya untuk menjalin hubungan istimewa dan terlarang itu yang telah berjalan selama dua tahun lamanya.

Billy adalah gigolo keenam yang dipelihara Windy setelah sebelumnya Maestro ditendangnya karena laki-laki itu tertangkap tangan sedang mencuri perhiasan milik Windy.

Selama dua tahun mereka berhubungan, Billy terbukti sebagai pria yang pengertian dan menyayangi Windy, dia tidak bisa mengharapkan perlakuan yang lebih baik dari pria muda ini.

“Kau memang tahu bagaimana membuat perasaanku sejuk, Bil... Sudahkah aku bilang betapa aku beruntung bertemu denganmu?” tanya Windy senang, tangannya membelai dada bidang pria muda itu dengan genit, mengalungkan kedua tangannya pada leher kokohnya.

“Setiap saat, Sayang... kau mengatakannya setiap saat. Dan aku tidak akan pernah bosan mendengarnya.”

Windy terkikik senang, mereka bergulingan di atas ranjang, saling cumbu, saling rayu, sesekali berciuman dengan mesra.

“Ayo... sudah sore, kita akan melihat mobil yang kubelikan untukmu. Kau pasti suka. Zaman sekarang anak-anak muda sangat senang menggunakan mobil seperti ini,” ajak Windy sembari menarik bangun tangan Billy yang masih menggeliat di atas ranjang.

“Hm... apa kita harus? Aku masih ingin berduaan denganmu di sini, Sayang...” rengek Billy manja.

“Kau harus, Baby.... Aku sudah bosan pergi ke hotel terus, sekalian melihat rumah baru kita. Lengkap!! Kau pasti betah mengerjakan tugas-tugas kuliahmu di sana, dan aku akan menungguimu seharian,” kikik Windy senang. Dia mengenakan perhiasan dan pakaiannya kembali.

Dengan malas Billy memungut pakaiannya dan mengikuti Windy menuju ruang tamu kamar hotel itu.

“Kau tidak harus melakukannya, Sayang. Aku tidak ingin kau merasa aku hanya memanfaatkanmu.” Billy mengerutkan dahinya, meskipun dia menyadari statusnya hanya sebagai pemuas nafsu Windy, Billy tidak pernah berharap akan mendapatkan kemewahan dari wanita itu. Mencukupi biaya hidup dan kuliahnya pun Billy telah bersyukur, dia tidak pernah meminta apa pun dari Windy, itulah yang membuat wanita setengah baya ini begitu menyayanginya.

“Kau tahu aku melakukannya karena aku ingin. Bila menunggu kau memintanya dariku, aku sudah keburu miskin, Billy Sayang....”

Billy menghela nafasnya menyerah, dia sungguh tidak bisa mendebat wanita ini. Billy mencintai Windy, meskipun setengah dari perasaannya hanyalah perasaan sayang kepada seorang ibu yang tak pernah dimilikinya. Billy tersenyum hangat pada wanita itu, senyuman yang mampu melelehkan hati beku siapapun.

“Baiklah kalau kau bersikeras,” jawab Billy akhirnya. Windy menyeringai senang dan menggamit lengan Billy menuju lobi hotel.

Di kejauhan, seorang laki-laki muda baru saja keluar dari koridor lain hotel itu. Dia menggandeng seorang wanita yang berusia dua tahun lebih muda darinya. Saat melihat Windy dan Billy bergandengan tangan dengan riang, tubuhnya membeku. Seberapa lama dia hanya diam, namun setelah pasangan itu menghilang, dia mendengus.

“Huh... memang semua sudah rusak!!” dengusnya kesal.

Wanita yang berdiri di sampingnya tertawa pelan, “Mengapa kau bilang begitu? Bukankah itu ibumu, Ken?” tanya wanita itu.

“Ya, dia ibuku...,” jawabnya dingin.

Kenzo dan wanita itu kemudian masuk ke dalam sebuah mobil Mercedes Benz yang telah menunggu selama dua jam di depan lobi hotel.

“Tuan Kenzo....”

“Apa Daddy ada nelphone?” tanya Kenzo pada sopirnya.

“A...ada Tuan, saya bilang seperti yang Tuan suruh,” jawab sopirnya gelagapan.

Kenzo berdecak sinis, “Bagus,” jawabnya datar.

“Kau yakin tidak apa-apa kita menginap dulu di hotel sebelum pulang ke rumahmu, Ken?” tanya wanita itu lagi.

“Sudahlah, Ver. Aku punya alasan mengapa aku melakukannya, tak usah banyak tanya!”

Veronica, wanita yang duduk di samping Kenzo itu hanya mengangkat bahunya tak peduli, dia memperbaiki riasan wajahnya yang sebenarnya tak perlu diperbaiki, hanya karena itu adalah kebiasaannya saja. “Whatever...” jawabnya dengan logat American English.

Kenzo membuka jendela di samping tempatnya duduk, menghembuskan rokoknya keras-keras. Sudah lima tahun dia meninggalkan negara ini untuk kuliah di Amerika, bahkan tak sekalipun dia pulang meski untuk menjenguk ayah atau ibunya.

Kenzo tidak bisa pulang, dia tidak ingin pulang. Hatinya sakit bila harus memikirkan bertemu dengan orang yang paling dibencinya, orang yang paling ingin dibunuhnya bila dia sanggup.

Orang yang telah menghancurkan hati dan harapannya akan cinta.

Orang yang paling dicintainya.

“Karina...,” bisik Kenzo lirih.

~*~*~*~

“Tuan Kenzo, sudah sampai,” ujar sopir pada Kenzo yang masih larut dalam dunianya sendiri.

Kenzo mengerjapkan matanya, memandang pada penampilan rumahnya yang baru. Selama lima tahun ini telah banyak renovasi yang dilakukan Deddi pada rumah keluarga mereka. Menambah jumlah kamar, melebarkan beberapa kamar, hanya untuk menyesuaikan dengan anggota baru rumah itu.

Susi dan Karina. Ibu – anak yang paling dibenci oleh Kenzo.

Meski dia tidak menampakkan kebenciannya secara langsung pada Sang Ibu, namun kebencian Kenzo dengan gamblang terlihat pada Karina. Kenzo tak akan pernah memaafkan wanita itu, meski dia tidak ingin memikirkan mengapa rasa benci itu begitu besar hingga menghancurkan dirinya.

“Kau yakin ingin aku tinggal di sini?” tanya Veronica lagi. Mereka telah berdiri di undakan menuju ruang depan rumah mewah itu.

“Kenapa? Kau ingin pulang ke Amerika? Bukankah di sini kau tidak memiliki siapapun?” tanya Kenzo acuh.

“Ehm... entahlah, aku rasa kau segan mengajakku tinggal di sini,” ujar Veronica tak mempedulikan air muka Kenzo yang berubah.

You’re too much talking bullshit!” ketus Kenzo lagi. Veronica hanya menjulurkan lidahnya pada laki-laki itu.

Kenzo dan Veronica telah berhubungan selama dua tahun lamanya. Mereka berkenalan di kampus tempat mereka kuliah. Kenzo yang lulus tahun ini, sedangkan Veronica masih harus menempuh dua tahun lagi untuk mendapatkan sertifikat kelulusannya.

Pintu ruang tamu itu terbuka, keluarlah sepasang suami istri, Deddi dan Susi yang menyambut kedatangan Kenzo dan Veronica. Deddi memeluk tubuh anaknya yang kaku mendapat sambutan hangat itu. Deddi menyadari mengapa Kenzo begitu dingin padanya, namun dia tak mempermasalahkan hal itu, Deddi tidak tahu harus berbuat apa untuk memperbaiki hubungannya dengan Kenzo. Deddi hanya berharap waktu lima tahun akan mampu membuat Kenzo melupakan dan memaafkan anggota baru keluarga mereka.

“Kau sehat?” tanya Deddi pada anaknya.

“Ya, cukup sehat,” jawab Kenzo acuh. “Kenalkan, Veronica. Kekasihku.”

Deddi bersiul senang, dia tidak menyangka Kenzo akan mampu melupakan Karina. Dia justru sangat senang melihat anaknya telah move on dari sakit hati cinta monyetnya.

“Senang berkenalan dengan kekasih anakku. Aku Deddi, ayahnya Kenzo. Dan ini, Susi, ibunya Kenzo.”

“Ibu tiri, ralat,” ketus Kenzo sambil masuk ke dalam rumah, meninggalkan tiga orang di belakangnya dengan wajah terguncang dan salah tingkah.

Deddi yang paling pertama mencairkan suasana, “Maafkan dia, Kenzo biasa ceplas-ceplos. Dulu dia tidak seperti ini, mungkin pergaulannya di luar negeri membuatnya seperti ini,” ujar Deddi meminta maaf.

Veronica hanya mengangguk-angguk memaklumi, mereka kemudian masuk ke dalam rumah menyusul Kenzo yang telah menaiki tangga menuju kamar lamanya.

Dibukanya pintu kamarnya, hanya lebar kamar itu yang berubah, beserta satu set home theater yang ditambahkan oleh ayahnya. Kenzo hanya mendengus.

“Bagaimana? Kau suka? Kamarmu lebih luas dan ada home theather, satu set komputer canggih sudah Daddy pasang juga satu tivi flat screen yang menempel di tembok. Kau bisa bermain game sepuasmu sekarang dengan layar lebar!” Deddi tertawa terbahak-bahak namun Kenzo tak berkomentar, dia menuju tempat tidurnya dan merebahkan tubuhnya sebelum memeluk sebuah bantal guling kesayangannya.

“Aku ingin tidur, kalian keluarlah. Kecuali Veronica, dia akan tinggal denganku di kamar ini,” kata Kenzo.

Deddi dan Susi hanya bisa saling pandang tanpa mengomentari ucapan Kenzo. Meski mereka terkejut dengan perubahan Kenzo, namun Deddi meninggalkan kamar itu dan mengucapkan selamat malam pada Veronica.

“Apa kau tidak terlalu keras pada orang tuamu, Ken?” tanya Veronica yang kini duduk di sisi ranjang Kenzo.

Laki-laki itu menggeliat, “Sudahlah. Aku tidak ingin kau mengajariku. Aku tahu apa yang aku lakukan.”

Kenzo menarik tubuh Veronica mendekat hingga wajah mereka berjarak beberapa senti, “Aku akan melakukan apa pun yang aku inginkan. Bila kau tidak suka, kau bisa kembali ke Amerika kapanpun kau ingin.” Lalu diciumnya bibir wanita itu dengan penuh minat. Ciuman itu lama dan panas, kedua pasang mata mereka terpejam.

Namun saat Kenzo mendengar suara kaki melangkah melewati kamarnya, matanya terbuka. Dia melihat sepasang mata yang terguncang sedang memperhatikan perbuatan mereka. Mata itu kemudian berkaca-kaca, dipenuhi air mata yang siap untuk runtuh kapanpun juga.

Kenzo tak peduli, dia tetap melanjutkan ciuman mereka sebelum meminta Veronica untuk menutup pintu dan melanjutkan apa yang mereka tunda sebelumnya.



1 comment:

  1. Loh? Dilanjutin ya? Ga jadi the end kah? Tapi nanti endnya kaya VE lagi T___T

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.