"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Wednesday, January 21, 2015

Cinta Tak Perlu Benar - Chapter 3


Pukul tiga dini hari, Kenzo turun dari kamarnya untuk mencari segelas air dingin dari dalam kulkas. Dia hampir melupakan letak setiap ruangan di dalam rumah itu. Namun satu ruangan tak akan pernah dilupakannya.

Dengan langkah perlahan, Kenzo menuju sebuah kamar di sudut lantai dua, pada sudut jauh dari kamarnya sendiri. Pada ruangan yang dulu sering dikunjunginya pada jam-jam tertentu di kala malam telah larut.


Pintu itu terkunci, namun Kenzo tahu bagaimana cara membuka kunci kamar itu. Dia telah memiliki kunci cadangannya yang telah disimpannya rapat-rapat dan tersembunyi di sebuah celah pada lubang di tembok yang ditutupinya.

Ruangan itu diterangi lampu remang-remang yang bersinar dari lampu di atas meja belajar. Lampu temaram itu menerangi sebuah wajah yang tengah tidur terlelap di atas ranjang berseprai hijau muda, warna kesukaan wanita itu.

Tangan Kenzo meneliti setiap pigura dengan foto-foto di dalamnya. Foto wanita itu sedang tersenyum. Senyum kecil, seringaian kecil, senyum kecil lagi, bahkan saat seharusnya semua orang tertawa lebar, wanita di dalam foto itu hanya tersenyum kecil. Tak ada lagi senyum lebar dan tawa terbahak-bahaknya, semua disebabkan oleh dirinya, oleh Kenzo yang begitu bengis padanya, pada Karina, adik seayahnya.

Ditariknya sebuah kursi ke pinggir ranjang, diperhatikannya dengan seksama wajah itu, wajah yang tak akan pernah mampu dienyahkannya dari ingatannya, dari hatinya. Tangannya menyentuh sebelah tangan wanita itu, mengelusnya dengan sayang, dengan penuh kerinduan, lalu dikecupnya pelan. Dibawanya telapak tangan wanita itu ke pipinya, merasakan lembutnya tangan itu pada kulitnya, mencium wangi bunga melati dari jari jemarinya yang lentik, jari jemari yang dulu adalah miliknya, yang selalu dikecupnya saat mereka masih belum mengetahui kenyataan menyakitkan itu.

Perlahan kelopak mata lentik itu membuka, tangannya masih digenggam erat oleh Kenzo yang menatapnya tanpa kedip, ekspresi dinginnya masih di sana, masih menyelimuti bola mata berwarna coklat kelam itu.

“Kenzo? Apa yang kau lakuka...?” tanya Karina namun tak berhasil menyelesaikan kalimatnya karena telapak tangan Kenzo telah menutupi mulutnya.

“Shhh... Kalau kau berjanji tidak bersuara, aku akan melepaskan tanganku. Kau mau diam?” tanya Kenzo.

Karina mengangguk, mendengar suara Kenzo telah membangkitkan kerinduan dalam hatinya akan laki-laki di depannya, meskipun dia tahu kesakitan apa yang akan menunggu kemudian.

Kenzo melepaskan dekapan tangannya dari bibir Karina, namun tangannya yang masih menggenggam tangan gadis itu tak dilepasnya. Kenzo masih memegangi tangan kanan Karina dengan erat.

“Apakah kau merindukanku?” tanya Kenzo tiba-tiba.

Karina bingung dengan pertanyaan itu. Dia begitu ingin menjawab, namun mengingat perbuatan dan penghinaan Kenzo padanya dulu, Karina tak berani asal bicara. Dia tidak ingin Kenzo menyakitinya lagi. Karina masih ingat dengan jelas bagaimana laki-laki di depannya ini menyakitinya meski hanya dengan kata-kata tajam yang selalu keluar setiap kali mereka bersama.

Ketika bibirnya bergerak hendak menjawab pun, Kenzo telah memotongnya, “No... no... tak usah kau jawab. Bukankah sudah kukatakan dulu, kau tak perlu menjawab setiap pertanyaanku, karena aku tak ingin mendengar suaramu yang buruk itu,” dengus Kenzo sinis.

Tangannya mengelus pipi Karina, dengan cibiran sinis dia mendekatkan wajahnya pada wajah Karina hingga mata mereka tertaut sempurna.

“Kau pasti merindukanku, kan? Karena aku tahu kau masih tidak bisa melupakanku. Dasar wanita jalang!!” sungut Kenzo marah.

Dihempaskannya tangan Karina yang tengah dipeganginya dan mengunci dagu wanita itu dengan kasar.

“Kenapa kau tidak bisa melupakanku, hah? Tidakkah ada laki-laki yang mengisi hatimu? Atau setidaknya melirikmu? Laki-laki yang bisa membuatmu melupakanku?!” Dengan kasar Kenzo mencium bibir Karina, ciuman kasar yang selalu diberikannya pada adiknya itu, ciuman kasar yang selalu berubah menjadi lembut dan membutuhkan, ciuman yang membabat habis segala kebencian dalam hati Kenzo, ciuman yang menggantikan kebencian dengan sakit hati.

“Kenapa kau tidak bisa melupakanku meskipun sudah banyak laki-laki yang kau tiduri, Karina?” Tangan Kenzo bergetar menyentuh bibir Karina, mengelus bibir basah itu dan mengecupnya pelan. “Kau... mengapa kau tidak bisa melepaskan hatiku dan membebaskanku? Mengapa kau mengurung hatiku dalam dirimu? Mengapa?? Apa yang harus kulakukan agar bisa melupakanmu? Agar bisa mengenyahkanmu dari hidupku?!!!” desis Kenzo marah, desisan yang lebih berupa isakan tangis penuh kesakitan.

Mereka berdua menangis, air mata berlinang-linang pada Karina, dan mata yang berkaca-kaca pada Kenzo dan gertakan giginya yang semakin mengeras.

Kenzo menjatuhkan kepalanya ke samping kepala Karina, menangis terisak sambil memeluk tubuh gadis itu, isakan yang mengiris-iris hati keduanya, isakan yang selalu mereka perdengarkan selama lima bulan lamanya dulu mereka bersama di dalam rumah ini sebelum akhirnya Kenzo pergi ke Amerika.

“Kau kejam, Karina... Kau tidak ingin mengembalikan hatiku... Kau juga tidak ingin membuangnya.... Mengapa...?? Mengapa kau mencintaiku begitu dalam, Karina....???”  

Karina menangis lagi, dipeluknya tubuh Kenzo yang bergetar di atasnya. Tubuh Kenzo jatuh tak berdaya memeluk Karina, mereka menangis bersama hingga dentang pukul empat pagi berbunyi.

Kenzo pun melepaskan pelukan mereka. Tanpa mengusap air matanya, Kenzo pergi meninggalkan kamar Karina, meninggalkan sebuah kalimat yang dia tujukan untuk melukai gadis yang ditinggalkannya. Kalimat yang sama yang dulu selalu dia ucapkan sebelum pergi dari kamar itu.

“Jangan cintai aku lagi, karena aku sudah tak mencintaimu.”

Pintu itupun tertutup dengan tubuh Kenzo merosot dan menangis terisak di baliknya. Kedua tangannya memeluk lututnya, tubuhnya bergetar menahan isak tangis yang mendesak keluar. Hingga setengah jam lamanya Kenzo masih duduk tak berdaya di sana, dia kembali ke kamarnya hanya untuk mengambil sebungkus rokok yang dihisapnya di teras depan seorang diri. Pukul enam pagi, Susi pun bangun dan bersiap-siap pergi ke pasar dengan pembantu rumah tangga mereka.

Suasana pagi pertama di Indonesia setelah lima tahun lamanya Kenzo pergi tak juga dapat merubah suasana hati pria muda itu yang telah hancur berkeping-keping.

Tak akan pernah ada jalan bagi cinta mereka dan Kenzo hampir gila memikirkannya.

~*~*~*~

“Aku berangkat, Ma, Pa,” ujar Karina yang terburu-buru dari tangga kamarnya.

“Lho, gak makan dulu?” tanya Susi pada anaknya.

“Enggak, Ma. Enggak keburu. Harus ke apotik dulu beli obat buat persediaan kemping nanti juga. Jadi harus nunggu angkot yang lebih pagi.”

Alis Kenzo berjengit mendengar Karina masih memakai angkot sebagai kendaraannya. Sebagai anak dari pengusaha kaya, Karina bisa saja mengendarai mobil mewah keluaran terbaru. Kenyataan itu menarik perhatian Kenzo. Namun Deddi telah mendahuluinya.

“Kok gak minta dianterin Kenzo aja? Ken, anterin adikmu, lah,” pinta Deddi pada Kenzo yang masih mengupas pisang dengan santai.

Kenzo tak menjawab hingga Karina telah mencapai pintu luar ketika dia berteriak, “Tunggu! Biar aku yang ngantar.” Kenzo kemudian menyambar kunci Mercedes Benz yang tergantung paling pinggir.

“Ver, gak ikut? Sekalian jalan-jalan,” panggil Kenzo pada Veronica yang masih sibuk mengoleskan selai coklat pada roti tawarnya.

“Tapi aku masih makan,” rengek Veronica manja.

“Nanti saja makan di luar. Kalau tidak, aku tak akan mengantarkanmu kemana-mana,” ketus Kenzo lagi. Dia telah keluar mencari mobil yang baru saja selesai dicuci oleh sopir rumah mereka.

“Kau duduk di belakang saja,” ujarnya pada Karina, lalu menoleh ke arah Veronica, “Ver, depan,” perintah Kenzo pada Veronica yang cemberut namun duduk dengan patuh.

Di dalam mobil mereka tidak banyak bicara, hanya cuap-cuap Veronica yang mewarnai perjalanan. Sesekali Kenzo akan mencium pipi Veronica yang risih karena Kenzo melakukannya di depan Karina, namun gadis itu memalingkan wajahnya, tak ingin melihat. Bahkan saat di pemberhentian lampu merah, Kenzo sengaja melumat bibir Veronica dengan rakus hanya untuk menyakiti Karina yang kemudian keluar dari mobil karena tidak tahan dengan perbuatan Kenzo.

Kenzo tidak mengejarnya, dia melepaskan ciumannya dari Veronica tepat setelah Karina berhasil keluar dari mobil. Karina berlari ke arah keramaian dan menghilang di sebuah gang tak jauh dari rumah penduduk. Di sana Karina mengeluarkan segala isi hatinya, tangisannya begitu pilu dan tak mampu ditanggungnya lagi.


Dengan tangan erat mencengkeram kemudinya, Kenzo meninggalkan Karina seorang diri di dalam keramaian itu. 


4 comments:

  1. lagi mbk......sumpah nyesek bgt bacanya :'(

    ReplyDelete
  2. Oh my ini heart breaking bgt. Ga ada jalan kah utk mereka berdua?? T_T

    ReplyDelete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.