"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Wednesday, January 21, 2015

FANFIC Topeng Kaca - Langit Sejuta Bintang - Part 4


Masumi menatap hasil ikan tangkapannya dengan puas. Walau dia bermaksud untuk memanggang semua hasil tangkapan ikan itu, tapi dia tidak yakin bila mereka bisa menghabiskan semuanya.

“Apa yang harus aku lakukan pada ikan-ikan ini?” tanyanya bingung. Dia melihati ikan-ikan itu dengan tak berdaya. Meski demikian, Masumi yang pernah belajar membersihkan ikan dari tukang kebun yang dulu sering membersihkan kolam ikan di rumah Hayami, dengan mudah merobek perut ikan-ikan itu untuk membersihkannya dari kotoran. Hanya dalam sepuluh menit Masumi telah berhasil melakukan pekerjaan yang cukup bagus.


“Lalu ranting-ranting ini bisa kugunakan untuk memanggang ikan-ikan ini. Hm.. mungkin mengasapinya sehingga bisa kami makan untuk esok hari?” tanyanya kurang yakin.

“Pak Masumi, anda sedang apa?” tanya Maya yang muncul dari balik pintu gubuk.

Masumi berbalik menghadap ke arah Maya yang baru saja kembali dari danau. Masumi terpana untuk beberapa saat sebelum mengatupkan bibirnya lagi. Dia belum pernah melihat penampilan Maya seperti yang dia lihat sekarang. Bahkan untuk membayangkannya pun Masumi tidak berani.

Maya dengan rambut hitam berkilaunya yang basah sehabis mandi, dengan kain menutup dadanya hingga ke batas lutut –yang dia dapatkan dari lemari usang di dekat ranjang papan, gadis itu tidak tahu betapa hebat pengaruh yang dia tancapkan pada Masumi. Pria dewasa itu pun menelan ludahnya.

“A...aku sedang memanggang ikan-ikan ini. Kau ada ide bagaimana kita akan memasaknya selain dipanggang?” tanya Masumi, mengalihkan pandangannya kembali ke arah ikan-ikan malang itu.

Dengan lincah, Maya menghampiri Masumi, berjongkok di sampingnya tanpa sedikit pun pikiran negatif menghampiri. Maya tidak pernah menyadari bahaya apa yang bisa terjadi bila dia hanya berduaan dengan seorang pria. Dan pria itu adalah seorang Masumi Hayami, yang walaupun terkenal dingin terhadap wanita, namun bukanlah alasan bagi Maya untuk tidak bersiaga. Mereka hanya berduaan di lembah itu, dan apa pun bisa terjadi.

“Mungkin kita bisa merebusnya? Aku melihat sebuah guci dari tanah liat di sebelah gubuk ini. Mungkin penjaga kuil memakainya untuk merebus air minum?” tanya Maya pada Masumi, memberikan sarannya.

Masumi mengangkat alisnya, bukan karena mendengar saran brilian dari Maya, melainkan karena melihat lekuk yang tak sepantasnya dia lihat ketika melirik ke arah Maya. Dia pun menjawab dengan gelagapan.

“Me...merebus dengan guci?”

Maya mengangguk, seringaian lebar terlukis di wajahnya, dengan riang dia berdiri dan keluar dari gubuk, mencari guci yang dilihatnya tadi.

“Aku sudah membersihkan guci ini dengan air hujan yang tertampung di kendi, mungkin kita bisa merebus air dulu untuk kita minum? Aku rasa di dalam lemari juga terdapat beberapa gelas dari bambu. Rupanya dulu penjaga kuil pernah menginap di sini,” jelas Maya.

Dia membuka lemari, mengeluarkan dua buah gelas dari bahan bambu, dua buah piring dari tembikar, bahkan dia menemukan sebuah ceret teh yang terbuat dari tanah liat.

“Lihat, ada kotak kayu cukup besar di dalam sini. Akan aku keluarkan,” kata Maya bersemangat.

Dengan tubuh mungilnya dia berusaha menarik kotak kayu yang berat itu. Dia kewalahan, hampir tersungkur ke belakang bila saja Masumi tidak sigap menangkapnya.

“Huft!! Kau tak apa-apa?” tanya Masumi, otomatis tubuh mereka saling bertubrukan, dan Masumi dapat merasakan lembutnya tubuh Maya menempel pada tubuhnya. Dua kali dia menelan ludahnya.

Maya menggigiti bibirnya, dia mengira memiliki cukup tenaga untuk menarik kotak itu, rupanya dia salah perkiraan.

“Kotak itu berat,” jawabnya.

“Biar aku yang mengeluarkannya.”

Masumi melepaskan tangannya dari pundak Maya, tubuhnya yang bergetar akibat sentuhan tubuh mereka coba disembunyikannya. Dia merutuki dirinya karena begitu mudahnya terpengaruh hanya dengan sentuhan kecil itu.

“Itu bukan sentuhan kecil. Aku menangkap dada mungilnya,” bisik Masumi dalam hati.

Kata-kata yang timbul di dalam kepalanya hanya menambah kegelisahan Masumi akan penyangkalan tubuhnya yang tertarik dengan Maya. Selama ini dia bisa bertahan, seharusnya dia bisa bertahan semalam lagi.

Kotak itu berat, tapi Masumi berhasil mengeluarkannya. Kotak yang tidak bergembok itu dengan mudah dibuka, dimana terdapat sebuah selimut dan beberapa kain di dalamnya. Mereka cukup beruntung bisa menghabiskan malam ini tanpa kedinginan ekstrem.

“Selimut ini cukup untuk kita berdua,” ujar Masumi sembari menoleh ke arah Maya sebelum melanjutkan, “...hanya bila kita duduk berdampingan,” lanjutnya.

Tidak ada ekspresi terkejut pada mata Maya, alih-alih, Masumi lah yang merasa tak nyaman dengan ide itu. Bukan, dia tidak keberatan membagi selimut itu bersama Maya, bahkan, dia ingin memberikan selimut itu untuk Maya meski dirinya mati kedinginan. Namun, berdekatan dengan Maya akan membangkitkan sesuatu yang telah lama dia kekang, belasan tahun, dan itu waktu yang cukup lama untuk seorang pria dewasa sepertinya.

Sejak Masumi mengenali cintanya pada Maya, dia kerap mendapatkan mimpi yang tidak bisa dia tolak. Saat terbangun di pagi hari, Masumi merutuki dirinya karena tidak mampu mengontrol tubuhnya. Sekeras apa pun dia berusaha untuk mengekang satu ‘hal’ itu, Masumi tidak bisa membohongi tubuhnya. Sejak saat itu pulalah Masumi selalu melakukan apa yang seharusnya dia lakukan bila tidak ingin pengurus rumah tangganya curiga dengan apa yang mereka temukan pada selimutnya di pagi hari.

“Aku akan merapikan selimut dan kain-kain ini. Setelah itu, aku akan bergabung denganmu memanggang ikan-ikan itu. Kelihatannya menyenangkan,” ujar Maya yang telah melupakan keberadaan mereka yang terkunci di dalam lembah tanpa akses keluar.

Maya berusaha melupakan kemalangan mereka. Saat dia berenang seorang diri di dalam danau, Maya memutuskan untuk menggunakan waktu berharga ini bersama Masumi. Karena dia tahu, apa yang terjadi di dalam lembah ini tidak akan terjadi lagi di luar sana. Masumi akan kembali menganggapnya anak kecil, hanya sebuah obyek yang bisa menghasilkan keuntungan ekonomis bagi perusahannya, sebuah nama yang bisa diatur dengan kekuasaannya.

Maya menolak untuk diatur. Dia adalah seorang manusia. Seorang gadis yang memiliki perasaan. Hatinya milik Masumi, dan Maya ingin melakukan yang benar, setidaknya di dalam lembah Bidadari Merah ini. Untuk sekali saja dalam hidupnya, Maya ingin memberanikan diri untuk menggapai cintanya, seperti bidadari merah yang melepaskan jati dirinya untuk hidup bersama orang yang dicintainya. Itulah pengorbanan Maya untuk cintanya. 


12 comments:

  1. Bagus.. ada lanjutannya ga? Info yah.. thanks

    ReplyDelete
  2. jadi... kapan saya akan diperkaya lagi dgn apdetanmu cyiinn? <<<ditampol

    ReplyDelete
  3. kurang banyak updatenyaaaa
    Lanjuuuutttt sist

    ReplyDelete
  4. kaka undang aku di blogmu yang finnegan's center itu ini email ku rizkythalia24@gmail.com

    ReplyDelete
  5. uda lama nih sis blom ada kelanjutannya. aku penasaran dengan pengendalian diri masumi.. masih kuat kah? atau tak tahan!!!

    ReplyDelete
  6. Lanjut... lagi...
    Kapan update lgi nih sist... ?? :-)

    ReplyDelete
  7. lanjut ddonkk pleaseee :( lemon klo bisa ^^

    ReplyDelete
  8. lanjut donk sis...(sambil kipas-kipas).. haduh ko aku berharap sekali saja pengendalian diri masumi lepas yah..hahah

    ReplyDelete
  9. Dah setaun lebih ga di update nih,,, mau tau lanjutannya sis.. bagus loh ceritanya.. plisss.. semangat.. caiyo... ganbatte :)

    ReplyDelete
  10. Aku komen lagi ach... Sudah setahun nih sis belum ada kelanjutannya??? Aku rindu cerita MM buatanmu.

    ReplyDelete
  11. Shin haido,update dong fftk ini sbg hadiah akhr thn 2016

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.